Gadis melayu ngajak ngentot ipar

Pada ulang tahunku yang ke 12 mama memberiku sebuah kado yang sangat menarik. Kalau engkau bersepeda pada usia 10 tahun aku khawatir akan keselamatanmu. Jika jatuh tentu sepedaku lecet atau ada bagian yang rusak.

gadis melayu ngajak ngentot ipar-49

Sudah jadi kebiasaanku tak selera makan bila tidak pedas. Tak terasa tibalah kami di kebun cabe yang cukup luas. "Kok pohon cabenya dipatah, bukannya buah cabenya aja yang dipetik satu-satu," tegurku heran. Tak banyak yang kami omongkan, hanya soal pekerjaanku dan pekerjaan suami Murni. "Aku ingat mbak, itu kan yang agak gemuk kuning bermata agak sipit," ujarku menebak. Ini orangnya lagi pergi masuk hutan," sahut Murni sekaligus memberitahukan keberadaan suaminya. "Kok nggak ada ke rumah lagi cari cabe, apa sudah dapat kebun cabe yang baru, mas ? Namun ada sesuatu keputusan yang akhirnya dengan tekad bulat bakal kuambil. Beberapa saat kami berdua larut dalam perasaan masing-masing, perasaan bahagia.

"Kebetulan kalo sampeyan mau cari cabe, di kebun kakaknya Mariana banyak," ujar Bu Ida. "Suamiku kan sering jual kayu gelondongan ke penggergajian sampeyan," ungkap Murni. Mariana yang lebih diam, jadi pendengar perbincangan kami, akhirnya permisi masuk. Aku bertekad untuk mendapatkan Mariana dengan status dan keadaannya apa adanya. Bila memang aku berjodoh dengan dia, berarti Tuhan berkenan menitipkan anak itu padaku," bathinku. Kami berdua pun tanpa ragu saling berdekapan untuk beberapa lama.

Warga berbaur dengan para karyawan di perusahaan kayu yang kukelola bersama seorang teman dan istrinya.

Warga yang berbaur dengan para karyawan itu sudah menjadi pemandangan rutinku setiap malam.

Besoknya aku pun mencari info mengenai tak munculnya Mariana ke barak kami tadi malam. "Tadi aku ada ketemu kakaknya, ia bilang tadi malam anak Mariana sakit," cerita Bu Ida. Lagian lebih mudah dibawa dengan tangkainya," balas Mariana sambil terus mematah tangkai cabe. "Cukup nggak cabenya segitu, kalo kurang ambil aja lagi," kata kakak Mariana. Sedangkan Mariana setelah meletakkan tangkai-tangkai cabe di lantai teras, juga ikut masuk kedalam rumah. Terjadi pergulatan bathinku antara menginginkan Mariana dengan kesiapanku menyayangi anaknya.

Aku mendatangi Bu Ida bukan cuma menanyakan tentang Mariana, tapi sekalian mencari cabe untuk makan siang nanti. "Cukup segitu, jangan banyak-banyak, nanti aku lambat kesini lagi," ujarku menggoda Mariana, yang tampak senyum menyembunyikan wajahnya. Aku, Mariana, ditemani kakaknya yang bernama Murni, duduk di teras sambil menikmati kacang rebus sambil minum teh. Aku pun mengingat-ingat para penjual kayu yang jumlahnya banyak, yang sering menjual ke tempat kami. Beberapa hari kemudian aku ketemu Murni di pasar pekan. Hingga menjelang subuh aku belum juga dapat memejamkan mata. " tercetus pertanyaan keluar dari mulut Mariana sambil menatapku. Dan aku sudah bertekad dan yakin dengan pilihan dan keputusanku," sahutku tanpa nada keraguan sambil meraih tangan Mariana.

Di halaman rumah tampak seorang wanita separuh baya sedang mencabut kacang tanah yang tumbuh memenuhi halaman yang cukup luas. Wanita yang sudah mengetahui kedatanganku itu pun menyahut salamku. Tak berapa lama kakak Mariana muncul sambil menyuruh adiknya membikin air teh. Setibanya di tempat Mariana, disana juga tampak Hamdi, suami Murni. Aku hanya menganggup tanda mengiyakan permintaan mereka. Lain kali belum tentu aku dapat kesempatan sebaik ini. Lebih baik menahan malu daripada dapat hasil nihil," pikirku dalam hati.

"Ooo.....kukira tadi siapa, silakan naik ke rumah," ujar tuan rumah sambil melangkah di depanku. Semua keluarga mereka tampaknya terkumpul; Mariana dan anaknya, Murni, suaminya berikut kedua anaknya pula. Sepeninggal Murni dan suaminya, tinggallah aku dan Murni di rumah. Dengan semangat untuk mendapatkan Mariana, aku bangkit dari duduk, melangkah mendekat dan duduk disamping Mariana.

Aku pun memarkir sepeda motor di tempat yang agak teduh dibawah pohon cempedak di samping rumah. Aku memutar otak untuk dapat memulai pembicaraan untuk mencurahkan seluruh perasaanku ke Mariana. "Terserah Mariana mau apa, beli pakaian, makan bakso, atau apa aja maunya," balasku.

Comments are closed.